Sunday, July 7, 2019

SIM, 14, Sahnaz Alfyn Ferdina, Hapzi Ali, Mengelola Sumber Daya Informasi (SDI), Universitas Mercu Buana, 2019

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Materi Minggu 14 SIM: Mengelola Sumber Daya Informasi (SDI)



Sahnaz Alfyn Ferdina
41818010027
Sistem Informasi
Dosen : Prof. Dr. Hapzi Ali, Ir, CMA, MM, MPM


1.     Rhenald Kasali dalam Kompas.Com mengungkapkan bahwa terdapat 5 (lima) hal penting dalam disrupsi yaitu :
  • Disrupsi berakibat terhadap penghematan banyak biaya melalui proses bisnis yang menjadi lebih simpel.
  • Disrupsi membuat kualitas apapun yang dihasilkannya lebih baik daripada sebelumnya.
  • Disrupsi berpotensi menciptakan pasar baru, atau membuat mereka yang selama ini ter-eksklusi menjadi ter-inklusi. Membuat pasar yang selama ini tertutup menjadi terbuka.
  • Produk/jasa hasil disrupsi ini harus lebih mudah diakses atau dijangkau oleh para penggunanya. Seperti juga layanan ojek atau taksi online, atau layanan perbankan dan termasuk financial technology, semua kini tersedia di dalam genggaman, dalam smartphone.
  • Disrupsi membuat segala sesuatu kini menjadi serba smart. Lebih pintar, lebih menghemat waktu dan lebih akurat.
Dalam ilmu strategic management, sebenarnya disrupsi adalah hal yang biasa dalam dunia bisnis. Pada dasarnya disrupsi adalah perubahan yang terjadi pada lingkungan bisnis yang secara alami memang selalu berubah dan dinamis. Dari zaman dahulu disrupsi sudah terjadi, dan kejadiannya biasanya dikarenakan oleh terciptanya teknologi yang membuat proses bisnis lebih efektif dan efisien  dibandingkan dengan proses sebelumnya.

Hal-hal yang tidak sama lagi dengan sebelumnya sehingga membutuhkan cara-cara baru untuk dapat menakkukannya.
Minimal, ada 3 hal yang harus dipahami telah berubah :
1.       Pasar yang baru
Disruption pada akhirnya mencptakan suatu dunia baru: digital marketplace. Dunia baru tersebut menandakan bentuk pasar yang berubah. Dengan kata lain konsumen pun akan berpindah. Pasar tersebut tidak disadari dan tidak terlihat wujudnya. Memunculkan prasangka-prasangka. Sayangnya, banyak yang masih berusaha berkilah daripada berorientasi kepada konsumen tersebut dan menyesuaikan produk serta layanannya.
2.      Nasib yang berbeda
Dalam menghadapi pertarungan yang kompetitif, akan selalu ada akhir yang berbeda bagi masing-masing pemain. Perubahan-perubahan yang terjadi menuntut adanya inovasi. Tanpa hal tersebut, yang lebih inovatif akan mengalahkan, bahkan menggantikan yang terdahulu. Sehingga, dalam sejarah disruption akan ada akhir yang berbeda. Maka, inovasi yang berkelanjutan adalah kunci.
3.      Bersaing dengan business model
Ada yang berubah dalam melakukan pemasaran ketika sudah memasuki era disrupsi. Kini, pertarungannya pun tidak sesederhana hanya sekadar produk. Melainkan mencakup pada model bisnis (business model). Produk bisa saja sama, tetapi apabila model bisnisnya dapat menarik hati konsumen, maka sudah barang tentu nyata siapa yang menjadi pemenang. Misalnya saja keduanya sama-sama berupa swalayan, namun karena model bisnis yang berbeda, maka salah satunya yang akan memenangkannya.

Berikut adalah 7 (tujuh) cara yang dapat dilakukan oleh bisnis dalam menghadapi era disrupsi ini agar bisnis tidak kehilangan pelanggannya atau bahkan mati : 
1) Trend Watching 
2) Research
3) Risk Management
4) Inovation
5) Switching
6) Partnership
7) Change Management

2.     Membangun Disaster Recovery Center (DRC)
Membangun DRC  adalah cara yang umum dilakukan untuk mengantisipasi risiko kegagalan sistem dalam melayani user. Tetapi DRC ini bisa diumpakan sebagai ban serep mobil jika ban utama dari mobil tersebut sering bermasalah maka seringnya pergantian ban makan tidak akan cukup merepotkan.
Membangun datacenter utama yang tahan terhadap dampak risiko operasional adalah pendekatan yang sangat disarankan. Tetapi membangun datacenter seperti ini memerlukan investasi yang sangat besar.
Pertanyaan adalah bagaimana memiliki datacenter yang mampu menghadapi dampak risiko operasional dengan biaya yang dapat disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan skala bisnis dari perusahaan. Caranya adalah dengan menggunakan layanan cloud dari cloud service provider yang secara otomatis mengalihkan / mentransfer risiko operasional teknologi informasi dari suatu perusahaan ke perusahaan penyedia jasa layanan cloud.


Daftar Pustaka :

SIM, 13, Sahnaz Alfyn Ferdina, Hapzi Ali, Keamanan Informasi dan Implikasi Etis Pemanfaatan IT, Universitas Mercu Buana, 2019

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN


SIM Minggu 13: Keamanan Informasi dan Implikasi Etis Pemanfaatan IT


Sahnaz Alfyn Ferdina
41818010027
Sistem Informasi
Dosen : Prof. Dr. Hapzi Ali, Ir, CMA, MM, MPM


Menurut G. J. Simsons, keamanan informasi adalah bagaimana kita dapat mencegah penipuan, atau paling tidak mendeteksi adanya penipuan di sebuah sistem yang berbasis informasi, dimana informasinya sendiri tidak memiliki arti fisik.

Berikut kerugian yang ditimbulkan akibat kurang penerapan keamanan :
  • hitung kerugian apabila sistem informasi tidak bekerja selama 1 jam, 1 hari, 1 minggu, 1 bulan.
  • hitung kerugian apabila ada kesalahan informasi pada sistem informasi (data).
  • hitung kerugian apabila ada data hilang.

Tujuan keamanan informasi :
  • Kerahasiaan. Perusahaan mencari cara untuk melindungi data dan informasinya dari penggunaan yang tidak semestinya oleh orang-orang yang tidak memiliki otoritas menggunakannya.
  • Ketersediaan. Tujuan dibangunnya infrastruktur informasi perusahaan adalah supaya data dan informasi perusahaan tersedia bagi pihak-pihak yang memiliki otoritas untuk menggunakannya.
  • Integritas. Seluruh sistem informasi harus memberikan/menyediakan gambaran yang akurat mengenai sistem fisik yang mereka wakili.

Aktifitas2 yang berhubungan dengan pengamanan sumber daya informasi disebut dengan Manajemen Pengamanan Informasi (information security management-BCM), sedangkan kegiatan pengamanan sumber daya informasi perusahaan setelah terjadi bencana disebut Manajemen Kangsungan Bisnis (business continuity management-BCM). Pegawai yang berada dalam organisasi ini disebut bagian keamanan sistem informasi perusahaan (corporate information systems security officer-CISCO).

Ancaman :
Ancaman Internal dan Eksternal
Ketidaksengajaan dan Kesengajaan

Resiko :
Pengungkapan dan Pencurian
Penggunaan secara tidak sah
pengrusakan secara tidak sah dan penolakan pelayanan
modifikasi secara tidak sah




STUDI KASUS BANK BCA :

Menurut saya dengan adanya kejadian tersebut, bank BCA harus mempunyai sistem yang mengharuskan pengguna memverifikasi akun melalui kode OTP terlebih dahulu. Dan ada baiknya bank BCA mendaftarkan seligus varian nama domain untuk mencegah agar variasi nama perusahaan atau lembaga tidak dicatut orang lain. karena situs klikbca.com sangatlah krusial dengan ancaman keamanan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan.



Daftar Pustaka :

Modul SIM minggu 13, https://elearning.mercubuana.ac.id/pluginfile.php/162093/mod_resource/content/1/13-10.%20Modul%20SIM%20SI%2C%20Keamanan%20SI%20%20Implikasi%20Etis%20TI.pdf (30 Juni 2019, jam 20.34)